Agenda Direktorat Administrasi Akademik UUI

TEMA Gonjang ganjing Issu Kurikulum 2013

ISI
Akankah Kurikulum 2013 Menyelamatkan Pendidikan Indonesia?

Ilustrasi/ Admin (Kompas.com)
Pendidikan Indonesia benar-benar mengahadapi ujian yang sangat sporadis. Setelah beberapa tahun memunculkan RSBI atau SBI dengan segala warna perdebatannya, kemudian dibubarkan oleh Mahkamah Konstutusi pada medio January 2013.

Dalam perjalanannya, kebijakan RSBI dan SBI sering menjadi perbincangan publik karena keganjilan-keganjilan selama masa implementasinya. Mulai dari dikotomi pendidikan, kastanisasi pendidikan, proyek bagi-bagi duit, “inveriorisasi” bahasa Indonesia, absennya perbedaan kualitas dengan sekolah reguler yang lain.

Belum lepas sepenuhnya dari “virus” RSBI dan SBI, kini kita dibuat bingung oleh begitu cepatnya pemberlakuan Kurikulum 2013. Kenekatan pemberlakuan itu akan menjadi perbincangan yang hangat ke depan, karena sejak perancangannya saat ini sudah muncul beberapa “keganjilan” yang mengantarkan pemberlakuannya.

Beberapa saat yang lalu Kemendikbud meyodorkan ke masyarakat untuk memberikan masukan melalui “Uji Publik Kurikulum 2013″. Antusiasme masyarakat dalam memberi masukan sangat tinggi. Ribuan masukan dan  kritikan telah masuk ke meja penggagas kurikulum baru tersebut dan masyarakat terus menunggu tanggapan dari pemerintah.
Komentar, masukan dan kritikannya bermacam-macam, dari yang menyayangkan keterburu-buruan pemerintah memberlakukan kurikulum baru, menanyakan statusnya kedepan karena mata pelajaran yang selama ini diampunya kini ditiadakan, mengkritisi pengurangan atau penggabungan mata pelajaran, atau bahkan jumlah distribusi jam pelajaran. Juga tidak sedikit yang mendukungnya.

Kemendikbud, ketika itu, berjanji akan menghargai segala bentuk masukan dan kritikan yang disampaikan oleh masyarakat. Namun, betulkah pemerintah menghargai setiap masukan? Jawabannya tentu hanya Tuhan dan pemerintah yang tahu, karena hingga saat ini yang terkabarkan justru semangat yang tinggi terhadap “pemaksaan” pemberlakuan pada bulan Juli mendatang.
Namun demikian, entah apa yang dipikirkan pemerintah saat ini. Pemerintah rupanya memiliki pertimbangan sendiri tentang policy yang diambil terkait dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 ini. Seakan tidak memerhatikan kritikan yang disampaikan oleh masyarakat, pemerintah terus melenggang melaju ke depan.
Agenda pemerintah terhadap proyek Kurikulum 2013 ini terus berjalan. Tengok saja beberapa agenda penting yang telah ditentukan oleh Kemedikbu. Agenda tersebut merupakan rangkaian panjang agar Kurikulum 2013 ini dapat diberlakukan pada tahun ajaran tahun 2013 ini.
Dari mengenalkan ke masyarakat melalui program Uji Publiknya, sosialisasi, penyiapan SDM penulisan buku dan penggandaannya. Pelatihan guru, misalnya, yang rencananya akan dilaksanakan selama 6 bulan, pemerintah merubah menjadi hanya 52 pertemuan untuk tiap jenjang pendidikan. Pembatalan itu disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim (15/1/2013). Dari perubahan tersebut jelas sekali bahwa pemerintah seakan-akan terburu-buru dan berlari zig-zag dalam mempersiapkannya.
Dalam hal pelatihan, misalnya,  untuk tingkat SD Kemendikbud memiliki 531 instruktur yang akan melatih 6810 guru inti, dan guru inti akan melatih 151.695 guru kelas.Sementara itu untuk SMP, 1.350 orang instruktur nasional yang akan melatih guru inti sebanyak 19.880 orang. Kemudian guru inti itu akan melatih 365.020 guru mata pelajaran. Sementara untuk SMA dan SMK masing-masing disediakan 324 orang instruktur nasional untuk melatih 2.982 guru inti. Selanjutnya, guru mapel SMA berjumlah 34.605 orang guru dan SMK jumlahnya 29.625 orang guru.
Kemudian dari sisi kesiapan materi, pemerintah juga terkesan super kilat mempersiapkan silabus, bahan ajar, buku petunjuknya. Bagaimana tidak, hanya beberapa minggu Uji Publik Kurikulum 2013 dilaunching, Wakil Menteri Pendidikan menyatakan bahwa silabus telah selesai atau sudah siap. Sehingga terkesan silabusnya sudah jadi beberpa waktu yang lalu dan Uji Publik seakan hanya media sosialisasi walau tersedia beberapa varian yang dapat dikritisi. Bahkan saat ini sedang mempersiapkan lelang tender pengerjaan buku yang sedianya akan dilaksanakan pada bulan Maret 2013.
Agenda yang tidak kalah penting adalah penggandaan dan distribusi buku yang akan dilaksanakan pada bulan April dan diperkirakan memakan waktu 80 hari. Padahal seperti kita ketahui bersama, bulan Juli 2013 buku harus siap dipakai.  Data dari Kemendikbud jumlah buku siswa yang akan dicetak sebanyak 57.285.371 eksemplar dengan rincian untuk SD berjumlah 20.930.308 buku, untuk SMP berjumlah 3.332.480 buku, untuk SMA berjumlah 2.141.811 buku dan untuk SMK 1.706.082 buku.
Pada Kurikulum 2103 pemerintah akan menyediakan buku untuk guru secara terpisah yang berjumlah hingga 5.161.978 eksemplar. Dengan rincian, untuk guru SD sebanyak 1.668.358. SMP sebanyak 3.429.390 buku, untuk guru SMA sebanyak 34.605 buku dan untuk SMK sebanyak 29.625 buku.
Kemudian pertanyaan yang muncul, apakah target yang telah ditentukan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik?. Akankah para penulis buku itu mampu menyelesaikan menyelesaikan buku yang baik dalam waktu satu bulan? Apabila mampu, lalu adakah jaminan kualitas dari pemerintah pada buku yang hanya dikerjakan selama sebulan? Kemudian kapan akan dilakukan penilaian kelayakan buku yang telah ditulis? Apakah masukan dan kritikan dalam Uji Publik kemarin akan dipertimbangkan/ diakomodir, karena saat ini silabusnya sudah beres? Sebenarnya siapa yang diuntungkan dengan pemberlakuan yang terburu-buru itu?
Itulah mungkin beberapa pertanyaan yang menggelayut terhadap “terburu-burunya” pemerintah memberlakukan Kurikulum 2013. Kita berdoa, semoga apapun jadinya Kurikulum ini lebih baik dari kurikulum sebelumnya dan mampu mengakomodir keindonesiaan itu sendiri. Pun pemerintah akan mampu terus mengontrol implementasinya dan penyimpangan-penyimpangan yang potensial, agar rakyat tidak kembali dirugikan oleh kebijakan pemerintah, apalagi “kebijakan yang terburu-buru”.
Jangan sampai Kurikulum 2013 tersebut malah menjadi musik yang menghancurkan Pendidikan Indonesia dan Keindonesiaan Indonesia.
 
JAKARTA- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan akan mengirimkan surat edaran ke sekolah yang akan menjalankan kurikulum 2013. Melalui surat ini Mendikbud menegaskan hanya 6.326 sekolah yang akan menerapkan Kurikulum 2013.
Mendikbud menjelaskan, di dalam surat edaran itu juga diselipkan Permendikbud mengenai keberlanjutan kurikulum. Anies menjelaskan, alasan dikirimkan surat edaran kurikulum ini ke sekolah-sekolah karena dia ingin mengubah sosialisasi kebijakan.
Sebelumnya sekolah tidak tahu menahu tentang alasan kebijakan yang dibuat pemerintah. Mereka hanya dikirimkan Permendikbud yang bahasanya sangat hukum sekali. Sekolah selaku pelaksana kebijakan itu pun hanya mengetahuinya dari media massa saja.
 
“Saya akan kirim surat ke kepala sekolah. Surat itu rapi saya buat mulai dari penjelasan mengapa kurikulum 2013 ini dievaluasi dan diterapkan terbatas,” katanya di kantor Kemendikbud, Jumat (5/12/2014).
Anies menjelaskan, dari surat edaran maka kepala sekolah dapat menginformasikannya kembali ke masyarakat. Mendikbud menegaskan, sekolah yang akan menjalankan kurikulum ini hanya sekolah angkatan pertama yang telah menjalankan kurikulum selama tiga semester.
Diketahui, 2013 lalu Kemendikbud menunjuk 6.326 sekolah sasaran yang pertama kali menjalankan kurikulum baru. Anies menuturkan, memang ada sejumlah sekolah angkatan kedua yang menjalankan kurikulum 2013. Namun karena baru satu semester menjalankan maka kurikulum di sekolah ini akan diberhentikan sementara.
Pengagas Indonesia Mengajar ini menjelaskan, bagi sekolah angkatan pertama yang masih menjalankan kurikulum ini evaluasi akan terus dilakukan. Dia memerintahkan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud yang akan melakukan evaluasi. Mengenai kritik sekolah menerapkan dua kurikulum yakni kurikulum 2013 dan KTSP, Anies menjelaskan, hal itu tidak melanggar konstitusi.
Yang penting, Kemendikbud tetap memonitor dan mengkontrol dengan baik pelaksanaan keduanya. Bahkan pada 2004 lalu Anies mengungkapkan Indonesia menerapkan dua kurikulum. “Sebetulnya tidak apa-apa ada dua kurikulum karena kitajuga pernah pakai dua kurikulum. Toh ujungnya adalah perbaikan kurikulum juga,” ucapnya.
Mendikbud mengibaratkan dia dalam posisi maju kena mundur kena. Namun dia memilih maju untuk menjalankan kurikulum hanya untuk sekolah yang siap saja. Sementara jika mundur dia hanya akan menyerah ke keadaan dan siswa pun yang menjadi korbannya. Mengenai buku yang sudah terlanjur di distribusikan percetakan dia akan berkoordinasi lagi ke direktorat terkait bagaimana penyimpanannya.

JADWAL 14-07-2015

TEMPAT